Selasa, Januari 08, 2013

kreatinya belanda untuk negeri ini


 
Berbicara tentang Belanda di antara masyarakat Indonesia, pasti angka 350-lah yang akan diingat di dalam benak masyarakat. Angka 350 menjadi pengingat lamanya waktu Belanda menjajah Indonesia. Masa penjajahan Belanda memakan waktu yang sangat lama, hingga begitu mendarah daging di benak masyarakat Indonesia.

Tetapi pada kenyataannya, tidak bisa dipungkiri bahwa selama penjajahan di Indonesia Belanda berkontribusi dalam pembangunan infrasturktur dan pembangunan di Indonesia. Kreativitas Belanda tertuang dalam setiap hasil karya-karyanya di Indonesia. Menelusuri kreativitas Belanda di Indonesia tentu tidak ada habisnya, mengingat dulu Belanda sudah ratusan tahun menjajah dan tinggal diam di Indonesia. Lirik saja jejak-jejak kreativitas Belanda yang yang tersebar di seluruh nusantara. Peninggalan Belanda berupa bangunan, jalur transportasi, karya sastra, dll. Bahkan hingga saat ini, peninggalan-peninggalan tersebut masih berdiri kokoh dan masih dapat dinikmati keindahan dan kemegahannya oleh masyarakat Indonesia.
Ketika ingin lebih dekat menyapa dan mengenal peninggalan Belanda, tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati kreativitasnya. Masyarakat Indonesia, terkhususnya di Yogyakarta juga dapat melihat bangunan-bangunan sejarah peninggalan Belanda yang masih banyak berdiri dengan penuh percaya diri di Yogyakarta.

Ketika Berkunjung ke Yogyakarta, pengunjung pasti akan banyak menjumpai bangunan kuno nan klasik peninggalan jaman kolonial Belanda. Salah satu bangunan jejak percikan kreativitas tangan Belanda, yang sampai sekarang ini masih nampak cantik dengan polesan arsitektur indah dari Belanda dan sedikit sentuhan warna dari Indonsia adalah Istana Yogyakarta atau lebih dikenal sebagai Gedung Agung Yogyakarta.

Istana megah nan kokoh ini terletak di ujung selatan jalan Ahmad Yani, Kelurahan Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta. Kompleks Istana Yogyakarta ini dibangun di atas lahan seluas 43.585 M2. Terletak tepat di pusat keramaian kota, jantung kota Yogyakarta di jalan Malioboro.

Istana Yogyakarta dirikan pada bulan Mei 1824, dimana pada awalnya merupakan rumah kediaman resmi Residen Belanda Ke-18 di Yogyakarta (1823-1825) yang bernama Anthonie Hendriks Smissaert, yang sekaligus merupakan penggagas atau pemrakarsa pembangunan Gedung Agung.

Arsitek dari Istana Yogyakarta atau Gedung Agung adalah A. Payen dari Belanda. Pecahnya Perang Diponogero (1825-1830) dan adanya bencana gempa bumi, mengakibatkan pembangunan gedung tertunda. Namun Istana Yogyakarta kembali dibangun dan bangunan baru tersebut rampung pada tahun 1869.

Kreativitas Belanda dalam pembangunan Gedung Agung berujung positif dan bermanfaat bagi Negara Indonesia, karena berkat hasil karya Belanda yang berhasil tertuang dalam bangunan Gedung Agung membuat riwayat Gedung Agung menjadi sangat penting dan sangat berarti tatkala pemerintahan Republik Indonesia hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta.

Sumber: jogjabackpacker.com

Berbicara tentang Belanda di antara masyarakat Indonesia, pasti angka 350-lah yang akan diingat di dalam benak masyarakat. Angka 350 menjadi pengingat lamanya waktu Belanda menjajah Indonesia. Masa penjajahan Belanda memakan waktu yang sangat lama, hingga begitu mendarah daging di benak masyarakat Indonesia.

Tetapi pada kenyataannya, tidak bisa dipungkiri bahwa selama penjajahan di Indonesia Belanda berkontribusi dalam pembangunan infrasturktur dan pembangunan di Indonesia. Kreativitas Belanda tertuang dalam setiap hasil karya-karyanya di Indonesia. Menelusuri kreativitas Belanda di Indonesia tentu tidak ada habisnya, mengingat dulu Belanda sudah ratusan tahun menjajah dan tinggal diam di Indonesia. Lirik saja jejak-jejak kreativitas Belanda yang yang tersebar di seluruh nusantara. Peninggalan Belanda berupa bangunan, jalur transportasi, karya sastra, dll. Bahkan hingga saat ini, peninggalan-peninggalan tersebut masih berdiri kokoh dan masih dapat dinikmati keindahan dan kemegahannya oleh masyarakat Indonesia.

Ketika ingin lebih dekat menyapa dan mengenal peninggalan Belanda, tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati kreativitasnya. Masyarakat Indonesia, terkhususnya di Yogyakarta juga dapat melihat bangunan-bangunan sejarah peninggalan Belanda yang masih banyak berdiri dengan penuh percaya diri di Yogyakarta.

Ketika Berkunjung ke Yogyakarta, pengunjung pasti akan banyak menjumpai bangunan kuno nan klasik peninggalan jaman kolonial Belanda. Salah satu bangunan jejak percikan kreativitas tangan Belanda, yang sampai sekarang ini masih nampak cantik dengan polesan arsitektur indah dari Belanda dan sedikit sentuhan warna dari Indonsia adalah Istana Yogyakarta atau lebih dikenal sebagai Gedung Agung Yogyakarta.

Istana megah nan kokoh ini terletak di ujung selatan jalan Ahmad Yani, Kelurahan Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta. Kompleks Istana Yogyakarta ini dibangun di atas lahan seluas 43.585 M2. Terletak tepat di pusat keramaian kota, jantung kota Yogyakarta di jalan Malioboro.

Istana Yogyakarta dirikan pada bulan Mei 1824, dimana pada awalnya merupakan rumah kediaman resmi Residen Belanda Ke-18 di Yogyakarta (1823-1825) yang bernama Anthonie Hendriks Smissaert, yang sekaligus merupakan penggagas atau pemrakarsa pembangunan Gedung Agung.

Arsitek dari Istana Yogyakarta atau Gedung Agung adalah A. Payen dari Belanda. Pecahnya Perang Diponogero (1825-1830) dan adanya bencana gempa bumi, mengakibatkan pembangunan gedung tertunda. Namun Istana Yogyakarta kembali dibangun dan bangunan baru tersebut rampung pada tahun 1869.

Kreativitas Belanda dalam pembangunan Gedung Agung berujung positif dan bermanfaat bagi Negara Indonesia, karena berkat hasil karya Belanda yang berhasil tertuang dalam bangunan Gedung Agung membuat riwayat Gedung Agung menjadi sangat penting dan sangat berarti tatkala pemerintahan Republik Indonesia hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta.


Pada tanggal 6 Januari 1946, setelah Indonesia merdeka dari penjajahan Belanda, kota Yogyakarta resmi menjadi ibu kota baru Republik Indonesia yang masih muda. Meskipun Bangsa Indonesia memiliki akar pahit terhadap Belanda, tetapi pemerintah Indonesia tidak menghancurkan semua bangunan jejak-jejak peninggalan Belanda di Indonesia. Malahan jejak-jejak kreatifitas Belanda tersebut dinilai berkualitas dan hasil karyanya juga diyakini dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Oleh sebab itu, Gedung Agung beralih fungsi menjadi Istana Kepresidenan Yogyakarta, dimana sebagai kediaman Presiden Soekarno - Presiden I Republik Indonesia, beserta keluarganya. Meskipun saat ini Istana Negara Republik Indonesia telah berpindah ke Jakarta, akan tetapi kekokohan dan kemegahan Istana Kepresidenan Yogyakarta masih dapat terlihat hingga sekarang.

Sumber:

http://www.presidenri.go.id/istana/index.php/statik/sejarah/yogya.html

Minggu, Desember 30, 2012

UAS RISET OPERASI

ARIF HADI W
NIM 100202010022
MANAJEMEN R2

Kasus I
CV. Cahaya Mulya adalah perusahaan yang memproduksi flexible packaging. Terdapat 2 jenis flexible packaging yang diproduksi yaitu : Metalize packaging dan non metalize packaging. Keuntungan yang diperoleh dari  satu roll metalize packaging adalah Rp. 45.000,- dan non metalize packaging adalah Rp. 75.000,- / roll. Namun untuk meraih keuntungan tersebut menghadapi kendala jam kerja.
Untuk pembuatan metalize packaging memerlukan waktu 5 jam pada saat proses printing dan 5 jam pada saat proses laminasi. Untuk pembuatan non metalize packaging memerluk`n waktu 5 jam pada proses printing dan 10 jam pada saat proses laminasi. Jumlah jam kerja yang tersedia untuk proses printing adalah 120 jam setiap minggu sedangkan jumlah jam kerja untuk laminasi adalah 140 jam setiap minggu.
Berapa jumlah metalize dan non metalize packaging yang harus diproduksi untuk memaksimumkan keuntungan?
Jawab :
Dari kasus di atas dapat diketahui bahwa tujuan perusahaan adalah memaksimumkan profit. Sedangkan kendala perusahaan tersebut adalah terbatasnya waktu yang tersedia untuk printing dan laminasi. Apabila permasalahan tersebut diringkas dalam satu tabel akan tampak sebagai berikut: 

            Produk yang dihasilkan
Keuntungan
Printing
Laminasi
Metalize
5
5
45.000
Non – Metalize
5
10
75.000
Jumlah jam kerja
120
140

Mengingat produk yang akan dihasilkan adalah plastik jenis metalize dan non - metalize, maka dalam rangka memaksimumkan profit, perusahaan harus memutuskan berapa jumlah plastik metalize dan non - metalize yang sebaiknya diproduksi. Dengan demikian dalam kasus ini, yang merupakan variabel keputusan adalah metalize (X1) dan non metalize (X2).
1.      Fungsi Tujuan
Profit = (Rp.45.000 x jml metalize yang diproduksi) + (Rp. 75.000 x jml non metalize yang diproduksi)
Secara matematis dapat ditulis :
Maksimisasi : Z = 45.000 X1 + 75.000 X2
2.      Fungsi Kendala
·         Kendala : Waktu printing
Pembuatan roll metalize memerlukan 5 jam untuk printing  ->5 X1
Pembuatan roll non - metalize memerlukan 5 jam untuk prining  ->5 X2
Total waktu yang tersedia per minggu untuk printing     ->120 Jam
Dirumuskan dalam pertidaksamaan matematis     ->5 X1  + 5 X2 £ 120
·         Kendala : Waktu laminasi
Pembuatan roll metalize memerlukan 5 jam untuk laminasi ->5 X1
Pembuatan roll non - metalize memerlukan 10 jam untuk laminasi->10 X2
Total waktu yang tersedia per minggu untuk laminasi ->140 Jam
Dirumuskan dalam pertidaksamaan matematis -> 5 X1  +  10 X2 £ 140
Formulasi masalah secara lengkap :
Fungsi Tujuan             : Maksimisasi : Z = 45.000 X1 + 75.000 X2
Fungsi Kendala :         5 X1  + 5 X2 £ 120
                        5 X1  +  10 X2 £ 140
                         X1  , X2  ³ 0                (kendala non-negatif)
Setelah formulasi lengkapnya dibuat, maka Kasus tersebut akan diselesaikan dengan metode grafik. Keterbatasan metode grafik adalah bahwa hanya tersedia dua sumbu koordinat, sehingga tidak bisa digunakan untuk menyelesaikan kasus yang lebih dari dua variabel keputusan.
Langkah pertama dalam penyelesaian dengan metode grafik adalah menggambarkan fungsi kendalanya. Untuk menggambarkan kendala pertama secara grafik, kita harus merubah tanda pertidaksamaan menjadi tanda persamaan seperti berikut.
5 X1 + 5 X2 = 120
Untuk menggambarkan fungsi linear, maka cari titik potong garis tersebut dengan kedua sumbu. Suatu garis akan memotong salah satu sumbu apabila nilai variabel yang lain sama dengan nol. Dengan demikian kendala pertama akan memotong X1, pada saat X2 = 0, demikian juga kendala ini akan memotong X2, pada saat X1 = 0.
Kendala I :
5 X1 + 5 X2 = 120
memotong sumbu X1 pada saat X2 = 0
5 X1 + 0 = 120
X1 = 120 / 5
X1 =  24
memotong sumbu X2 pada saat X1 = 0
0 + 5 X2 = 120
X2 = 120 / 5
X2 = 24
Kendala I memotong sumbu X1 pada titik (24, 0) dan memotong sumbu X2 pada titik (0, 24).
Kendala II :
5 X1  +  10 X2 = 140
memotong sumbu X1 pada saat X2 = 0
5 X1  +  0 = 140
X1  = 140 / 5
X1 = 28
memotong sumbu X2 pada saat X1 = 0
0  +  10 X2 = 140
X2 = 140 / 10
X2 = 14
Kendala II memotong sumbu X1 pada titik (28, 0) dan memotong sumbu X2 pada titik (0, 14).




Titik potong kedua kendala bisa dicari dengan cara substitusi atau eliminasi
5 X1 + 5 X2 = 120
5 X2 = 120 - 5 X1
X2 = 24 – X1
5 X1  +  10 X2 = 140                              X2 = 24 – X1
5 X1  +  10 (24 – X1) = 140                    X2 = 24 – 20
5 X1  +  240 - 10 X1 = 140                     X2 = 4
-5 X1 = 140 – 240
-5 X1 = -100
X1 = 20
Sehingga kedua kendala akan saling berpotongan pada titik (20, 4).
Penyelesaian dengan menggunakan titik sudut (corner point) artinya kita harus mencari nilai tertinggi dari titik-titik yang berada pada area layak (feasible region). Dari peraga 1, dapat dilihat bahwa ada 4 titik yang membatasi area layak, yaitu titik A (0, 0), B (0, 14), C (24, 0), dan D (20, 4).
Keuntungan pada titik A (0, 0) adalah (45.000 x 0) + (75.000 x 0) = 0.
Keuntungan pada titik B (0; 14) adalah (45.000 x 0) + (75.000 x 14) =  Rp. 1.050.000,-
Keuntungan pada titik C (20; 4) adalah (45.000 x 20) + (75.000 x 4) = Rp. 1.200.000,-
Keuntungan pada titik D (24; 0) adalah (45.000 x 24) + (75.000 x 0) = Rp. 1.080.000,-
Karena keuntungan tertinggi jatuh pada titik C, maka sebaiknya perusahaan memproduksi plastik metalize sebanyak 20 roll dan plastik non - metalize sebanyak 4 roll, dan perusahaan memperoleh keuntungan optimal sebesar Rp. 1.200.000,

 Kasus II
CV. Cahaya Mulya memiliki 3 buah kendaraan yang digunakan untuk mensuplai customer. Kapasitas yang tersedia untuk masing-masing kendaraan adalah 120 ton untuk truk besar, 80 ton untuk truk kecil dan 80 ton untuk box sedang. Adapun 3 customer yang berlokasi di Solo, Gresik, dan Pandaan. Permintaaan dari masing-masing customer adalah 150 ton, 70 ton, dan 60 ton.  Adapun biaya pengiriman yang diperhitungkan adalah sebagai berikut:
Biaya
Tujuan
Solo
Gresik
Pandaan
Truk Besar
3
9
10
Truk Kecil
8
5
6
Box Sedang
15
10
12
Berdasarkan data diatas bagaimanakah perusahaan mendistribusikan permintaan customer?

Jawab :
 
 Kasus III


Pada proses printing terdapat 4 karyawan yang bertugas mempersiapkan mesin sebelum proses cetak. 4 karyawan tersebut  adalah Shokib, Rizal, Mukid dan Prayit. Karena kemampuan masing – masing individu berbeda pada saat persiapan mesin, maka diperlukan penempatan yang tepat. Persiapan yang diperlukan adalah sebagai berikut  :


Karyawan
I
II
III
IV
Shokib
17
20
24
21
Rizal
15
14
18
15
Mukid
22
21
25
24
Prayit
23
25
20
19

Ket :
I : Mixing Tinta
II : Pasang Roll Press
III : Pasang Cylinder
IV : Pasang Bahan Baku
Bagaimanakah menempatkan tenaga kerja yang tepat ?
JAWAB :
Membuat tabel penugasan

Karyawan
I
II
III
IV
Shokib
17
20
24
21
Rizal
15
14
18
15
Mukid
22
21
25
24
Prayit
23
25
20
19


Mengurangkan nilai setiap baris dengan nilai opportunity cost (nilai terkecil) setiap baris



Karyawan
I
II
III
IV
Shokib
0
3
7
4
Rizal
1
0
4
1
Mukid
1
0
4
3
Prayit
4
6
1
0

Merevisi tabel penugasan karena ada satu kolom yang belum memiliki angka 0 kemudian meliputnya


 Mendistribusikan karyawan / pekerjaan pada nilai nol :
Tenaga kerja
Pekerjaan
Biaya
Shokib
I
17
Rizal
IV
18
Mukid
II
21
Prayit
III
19
Total Biaya

75

Kesimpulan :
Penempatan tenaga kerja yang tepat adalah
Shokib pada mixing tinta, Rizal pada pasang bahan baku, Mukid pada pasang roll press, dan Prayit pada pasang Cylinder. Dengan penempatan ini perusahaan akan memperoleh keuntungan.


Kasus IV
Sebelum memulai proses printing diperlukan beberapa persiapan. Karena adanya keterbatasan jam kerja, maka perusahaan merencanakan proses persiapan agar tercapai produksi yang maximal. Berikut data persiapan yang perlu dilakukan sebelum proses printing



Kegiatan          Uraian                                        Predessor    Waktu (menit)
A            Memasang Bahan Baku                               -                  2
B            Mengukur Roll Press dengan bahan baku     A                1
C            Memasang Bearing pada roll press               B                10
D            Memasang Roll press di mesin                      C                5
E             Membersihkan roll press                              D                 5
F             Mempersiapkan Cones                                E                  3
G             Mempersiapkan tinta                                  E                  15
H             Memasang Cylinder                                   F                   10
I               Mencampur Tinta                                      G                    30
J               Menggosok Cylinder                                 H                    10
K             Menuang tinta ke bak di mesin                     I                     5
L              Mempersiapkan Dr.Blade                           J                    10
M            Memasang Dr. Blade di mesin                     M                   10
N             Menggosok Dr. Blade                                 N                   10
O             Mesin Printing  siap dijalankan                J, K, N                 5



 Dari data diatas, gambarkan diagram networknya beserta waktu penyelesaian pekerjaannya.
JAWAB :